Zen Seru! Ratusan santri tumpah ruah di aula Pondok Pesantren Al-Falah, Desa Tunggulo, Minggu (15/02/26) dalam rangka momentum halal bihalal tingkat pesantren.
Kegiatan ini bukan sekadar acara formalitas, tapi jadi sinyal kuat bahwa Ramadan didepan mata, dan libur panjang dimulai!
Sekitar 500–600 peserta, mulai dari santri, ustadz-ustadzah, hingga wali santri, memadati lokasi dengan satu misi: mempererat ukhuwah dan konsolidasi spiritual jelang bulan suci.
Ustadz Ryandika R. Pakaya menegaskan, halal bihalal tahun ini difokuskan pada penguatan relasi internal pesantren.
“Esensinya mempererat ukhuwah antara santri dengan santri, santri dengan ustadz-ustadzah, sekaligus dengan wali santri,” jelasnya.
Yang menarik, seluruh rangkaian acara disiapkan secara kolaboratif. Panitia dibentuk internal, digarap bareng antara santri dan ustadz-ustadzah.
Model partisipatif ini memang jadi ciri khas sistem pendidikan di Al-Falah: santri bukan cuma belajar teori, tapi juga praktik organisasi dan kepemimpinan.
Sebagai pesantren yang dikenal kuat di kompetensi bahasa asing, Al-Falah menampilkan ceramah agama dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Arab.
Yes, dakwah versi multilingual!
Hal ini mempertegas positioning Al-Falah sebagai pesantren yang tidak hanya fokus pada penguatan akidah dan akhlak, tapi juga skill komunikasi global.
Acara mencapai klimaks saat ceramah hikmah halal bihalal disampaikan Ketua Yayasan, Kyai Haji Husnul Nizam Kau.
Pesannya tegas: jaga persaudaraan, lanjutkan konsistensi ibadah, dan jangan kendor setelah Ramadan berlalu.
Halal bihalal ini juga sekaligus jadi penanda dimulainya masa libur santri selama kurang lebih 45 hari.
Tapi tunggu dulu! ini bukan libur rebahan atau healing mode, yaa gaiiss!
Para santri justru ditugaskan kembali ke desa asal masing-masing untuk menjadi imam dan penceramah di masjid-masjid. Artinya, Al-Falah menerapkan pola pembinaan berbasis pengabdian masyarakat.
Selama 45 hari, mereka turun langsung ke lapangan. Dakwah jalan, karakter terasah, mental ditempa.





