Zen Seru! Di tengah gemerlap lampu dan lautan manusia yang memadati Festival Tombilotohe 2026, ada satu momen kecil yang justru mencuri perhatian Jurnalis media Goseru.
Bukan dari panggung utama, bukan juga dari barisan VIP, melainkan dari barisan penonton. Seorang pejabat publik terlihat berdiri santai di antara warga, tertawa, dan menikmati suasana Festival.
Dia adalah Herman Haluti, Ketua Komisi II DPRD Kota Gorontalo.
Festival Tombilotohe tahun ini benar-benar jadi magnet. Ratusan warga memadati kantor Walikota untuk menyaksikan beragam penampilan yang dilombakan.
Di antara kerumunan yang padat itu, kamera jurnalis Goseru menangkap satu pemandangan yang jarang terjadi dalam dunia pejabat publik yang biasanya identik dengan pagar protokoler.
Ketua Komisi DPRD itu tidak berada di kursi tamu kehormatan. Tidak juga di barisan pejabat yang biasanya dijaga protokoler. Ia berdiri di luar batas area VIP, tepat di tengah kerumunan masyarakat.
Pakaiannya sederhana. Kaos oblong berkerah bermotif garis-garis, tanpa atribut jabatan. Kalau tidak mengenalnya, mungkin orang mengira ia hanya salah satu warga yang datang menikmati festival.
Sesekali Herman terlihat tertawa bersama warga ketika menyaksikan peserta lomba dari unsur pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Gorontalo tampil menghibur.
Atmosfernya cair. Tidak ada jarak.
Festival Tombilotohe sendiri merupakan tradisi yang dipopulerkan oleh Walikota Adhan Dambea sejak Ramadhan tahun lalu dan kini berkembang menjadi perayaan tahunan yang ditunggu masyarakat.
Di tengah euforia festival itu, momen sederhana Herman Haluti justru menjadi cerita tersendiri.
Momen tersebut terekam kamera jurnalis media gorontaloseru.com yang tengah meliput jalannya kegiatan.
Tidak ada sesi wawancara, tidak ada sesi foto khusus. Bahkan, Herman sendiri tidak menyadari bahwa momen keberadaannya di tengah penonton, sedang diabadikan kamera.
Namun dari potret singkat itu muncul satu pesan kuat: Di saat banyak pejabat publik identik dengan ruang VIP, fasilitas khusus, dan protokoler ketat, Herman justru memilih berdiri di tempat yang paling sederhana, di tengah rakyatnya sendiri.
Sebuah pemandangan kecil, tapi cukup untuk mengingatkan satu hal: jabatan publik seharusnya tidak menciptakan jarak.





