Zen Seru! Pasar resmi seperti pasar Sentral makin sepi, lapak liar di pinggir jalan justru makin menjamur. Kondisi ini menuai sorotan DPRD, bahkan nyebut kalo ada “pembiaran” yang bikin kondisi ini makin nggak terkendali.
Sorotan ini mencuat dalam rapat evaluasi LKPJ Kepala Daerah Tahun Anggaran 2025 yang digelar di kantor DPRD Kota Gorontalo, Senin (06/04/26).
Merespon sorotan Pansus DPRD, Kepala Dinas Perdagangan, Haryono, bilang langkah yang diambil saat ini masih sebatas penataan.
“Saat ini kita baru sebatas mengatur lapak supaya menyediakan lahan parkir, edukasi soal kebersihan dan penyediaan saluran limbah, serta sosialisasi pajak hunian buat pedagang di badan jalan,” jelas Haryono.
Nah, jawaban ini menuai kritik dari Ketua Pansus, Herman Haluti. Ia menilai pendekatan Pemda dalam menyikapi persoalan pasar di pinggir jalan, meleset dari inti masalah.
Menurutnya, problem utamanya bukan sekadar penataan atau pajak, tapi turunnya aktivitas ekonomi di dalam pasar resmi.
”Pedagang di pasar resmi, khususnya pasar Sentral, mereka kehilangan pembeli karena masyarakat lebih memilih belanja di pinggir jalan,” ungkap Herman.
Herman juga meragukan kebijakan pajak bakal efektif. Kenapa? Karena fakta di lapangan menunjukkan pedagang pinggir jalan diyakini bakal membayar berapapun untuk tetap bisa berdagang di pinggir jalan.
“Di kawasan Jalan Palma misalnya, satu lapak kecil saja mereka mampu bayar sewa sampai Rp35 juta per tahun. Artinya, berapapun pajak yang dikenakan, mereka sanggup dibayar,” kata Herman.
Ia pun mendorong langkah yang lebih tegas: penertiban total dan pemindahan pedagang ke dalam pasar resmi.
“Tujuan utamanya adalah menghidupkan kembali Pasar-pasar resmi seperti pasar Sentral, Pasar Moodu, dan pasar tradisional lainnya sebagai pusat perputaran ekonomi,” kata Herman.
Tapi Zen Seru, di sinilah letak masalahnya. Relokasi ke pasar resmi khususnya pasar Sentral, kata kadis Haryono, nggak bisa lagi karena kapasitasnya sudah overload.
“Kecuali di renov lagi,” kata Haryono.
Menurut kalian, lebih pilih mana? Belanja cepat dipinggir jalan, atau menghidupkan kembali pasar resmi sebagai jantung ekonomi?





