Zen Seru! Banyak yang masih nganggep semua takbiran itu sama. Mau Idul Fitri atau Idul Adha, dibikin rame, panjang, bahkan sampai berhari-hari. Tapi tunggu dulu. Ada Fakta yang harus kamu tahu biar mikir ulang.
Menurut penjelasan Ustadz Abdul Somad (UAS), memperpanjang takbiran Idul Fitri sampai tiga hari seperti Idul Adha itu bukan sekadar beda pendapat tapi sudah masuk kategori serius dalam ibadah.
“Bid’ah, dolalah, sesat,” tegas Ustadz Abdul Somad dalam salah satu kajian yang disiarkan di laman YouTube-nya.
Dalam praktiknya, takbiran Id’ Fitri punya batas waktu yang jelas dan sudah disepakati oleh empat mazhab dalam Islam. Bukan fleksibel. Bukan bisa dimodifikasi sesuka hati.
Durasi takbiran Idul Fitri itu hanya sekitar dari setelah Magrib di malam Lebaran sampai sebelum khutbah Idul Fitri dimulai, kurang lebih sekitar 13 jam.
Artinya, begitu khatib naik mimbar dan bertakbir 9 kali, selesai. Nggak ada lagi takbir panjang seperti yang biasa kamu dengar di Idul Adha.
Berbeda dengan Idul Adha, yang memang punya takbir “muqayyad” (terikat waktu) sampai hari tasyrik, jadi bisa berlangsung beberapa hari. Nah, di sinilah banyak orang keliru menyamakan dua momen ini.
Ustadz Abdul Somad bahkan memberi analogi yang cukup menohok.
“Menambah takbiran Idul Fitri itu seperti menambah rakaat salat Dzuhur jadi lima rakaat,” tegas UAS.
Secara logika mungkin kelihatan lebih banyak, lebih bagus. Tapi dalam aturan syariat, itu justru menyimpang.
Kalau kamu tetap mau bertakbir di luar waktu itu? Boleh, tapi dalam bentuk zikir biasa, bukan takbiran Idul Fitri seperti yang sering kita tahu dan dengar.
Karena pada akhirnya, ini bukan soal siapa paling meriah saat Lebaran. Ini soal kamu paham batas antara tradisi dan tuntunan syariat.







