TAJUK | Zen Seru! Lonjakan kasus HIV di Gorontalo nggak bisa lagi dipandang sebelah mata. Bukan cuma angka kasus yang bikin kaget, tapi juga fenomena sosial di baliknya, mulai dari kemunculan “boti”, komunitas waria, sampai gaya pergaulan LSL (Lelaki Seks Lelaki) yang makin terbuka di ruang publik.
Buat sebagian orang ini soal kebebasan gaya hidup, tapi buat dunia kesehatan, ini sudah masuk zona alarm serius.
Data kesehatan terbaru sampai akhir 2025 mencatat ada 1.363 kasus HIV di Gorontalo. Sekilas kelihatan kecil kalau dibandingkan dengan populasi sekitar 1,25 juta orang. Persentasenya cuma sekitar 0,11%. Tapi angka ini juga nggak bisa dianggap remeh, karena untuk provinsi dengan populasi kecil, tren kenaikan seperti ini bisa jadi sinyal bahaya.
Terlebih 591 kasus HIV atau sekitar 43% (persentase tertinggi) yang terjadi di Gorontalo tercatat berkaitan langsung dengan hubungan sesama jenis sebagai faktor risiko penularan.
Apalagi muncul istilah baru: “boti” diruang publik. Dalam slang lokal, istilah ini biasanya merujuk pada laki-laki yang mengambil peran feminim dalam hubungan sesama jenis. Bersama komunitas waria dan kelompok LSL (Lelaki Seks Lelaki), mereka masuk dalam kategori populasi dengan tingkat kerentanan penularan HIV yang cukup tinggi menurut laporan dinas kesehatan.
Fenomena ini membuat diskusi soal LGBT di Gorontalo makin ramai, bukan cuma di media sosial, tapi juga di ruang publik bahkan di forum kebijakan daerah.
Ada lagi fakta lain, dalam laporan kesehatan, sektor salon dan tata rias muncul dalam data bahwa 132 kasus HIV tercatat dari individu yang bekerja di bidang ini.
Tentu saja angka ini tidak otomatis berarti semua pekerja salon terkait dengan risiko, tapi cukup untuk membuat sektor ini harus mendapatkan perhatian serius pemerintah daerah.
Yang paling bikin merinding, anak muda juga banyak masuk dalam angka mengkhawatirkan. Sekitar 412 kasus atau 30,23% (tertinggi kedua) terjadi pada usia 15–24 tahun. Ini juga banyak yang menduga karena dipengaruhi oleh perilaku LSL (Lelaki Seks Lelaki) dikalangan anak muda.
Adapun secara geografis, dua wilayah dengan angka kasus paling tinggi adalah Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo. Maka nggak heran kalo belakangan, pemerintah di dua daerah ini mulai lebih aktif membatasi aktivitas komunitas LGBT di ruang publik, terutama yang dianggap memicu polemik sosial.





