ZEN SERU! Kalau dengar kata HIV, apa yang langsung muncul di kepala kalian?
Takut? Khawatir? Atau malah buru-buru menjauh dari orang yang mengidapnya?
Kalo jawabanmu “yes”, disinilah justru salah satu titik masalahnya.
Memang benar, HIV harus diwaspadai. Penyakit HIV harus dihindari. Tapi bukan berarti orang yang hidup dengan HIV juga harus dikucilkan atau dijauhi. Mereka tetap berhak hidup bermasyarakat dengan layak.
Nah, belakangan, isu ini tengah jadi perhatian Pemerintah Kota Gorontalo, terlebih setelah muncul cukup banyak temuan kasus HIV di Provinsi Gorontalo.
Dalam periode November 2025 hingga Maret 2026, tercatat 83 kasus baru di Provinsi Gorontalo. Dan dari angka ini, 37 kasus ditemukan di Kota Gorontalo.

Merespon hal ini, Wali Kota Adhan Dambea melalui juru Bicaranya, Jeffry As. Rumampuk, menjelaskan bahwa angka 37 tersebut masih merupakan temuan kasus.
Menurut Jeffry, temuan itu juga nggak berarti seluruhnya merupakan penularan baru yang terjadi di Kota Gorontalo.
“Masih perlu analisis epidemiologis dan penelusuran lebih lanjut oleh tenaga kesehatan untuk melihat gambaran sepenuhnya,” kata Jeffry.
Dari 83 kasus yang tercatat, sebanyak 63 merupakan kasus HIV dan 20 kasus AIDS.
Kalo dilihat berdasarkan usia, 45 kasus berada pada kelompok 25 sampai 49 tahun, sedangkan 34 kasus lainnya berada pada usia 15–24 tahun.
Nah, angka usia ini yang bikin edukasi soal HIV menjadi semakin penting, Zen Seru!
Sebab, HIV bukan cuma topik yang harus dibahas di ruang pemeriksaan rumah sakit. Tetapi juga harus dibahas di ruang publik.
Menurut Jeffry, biar anak muda bisa mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan seksual, perilaku berisiko, pemeriksaan, bahkan pengobatan, hingga tentang bagaimana memperlakukan orang yang hidup dengan HIV.
Selain soal temuan kasus, Pemkot juga, kata Jubir Jeffry, tengah memberikan perhatian terhadap keberlanjutan pengobatan.
Sayang banget, yaa kan? Kalo kemudian warga udah mulai sadar dan mau berobat malah terhenti gara-gara layanan yang masih kurang maksimal dan stok obat terbatas.
Makanya, Jeffry mendorong agar stok obat ARV harus tersedia terus. Nggak boleh putus.
“Persoalan stok di fasilitas kesehatan harus ada mekanisme koordinasi dan rujukan sehingga pasien tidak dibiarkan mencari sendiri atau sampai putus obat,” ujarnya.
Kedepan, pemkot juga, lanjut Jeffry, bakal mendorong OPD teknis untuk memastikan kebutuhan pasien terpenuhi, mulai dari ketersediaan obat di faskes hingga distribusinya yang terus dipantau.
HIV Nggak Menular Gara-Gara Salaman
Nah, ini poin yang nggak kalah penting, Zen Seru! Selama ini kita selalu beranggapan jika berinteraksi dengan mereka yang mengidap penyakit HIV, kita bakal ikut tertular. Paradigma ini yang perlu kita luruskan.
HIV itu nggak menular hanya karena berjabat tangan, berpelukan, makan bersama, apalagi hanya karena menggunakan fasilitas umum secara bersama-sama.
Makanya, kata Jeffry, edukasi soal HIV nggak boleh cuma di puskesmas, tapi harus masuk ke semua lini, dari kelurahan, sekolah, keluarga, komunitas hingga media sosial.
“Pesan Pak Walikota, tegas. Jauhi perilaku yang berisiko, bukan menjauhi manusianya,” ujar Jeffry.
Atau dengan kata lain, melawan HIV bukan berarti memusuhi orang yang terkena HIV.
Oh, iya! Selain pengobatan, ada hal lain yang nggak kalah pentingnya, yaitu rahasia pasien.
Menurut Jeffry, masyarakat tidak boleh takut melakukan pemeriksaan hanya karena khawatir status kesehatannya diketahui orang lain.
Pemeriksaan HIV, kata dia, tentu tetap memperhatikan persetujuan pasien, konseling, kerahasiaan, ketepatan hasil pemeriksaan, serta memastikan pasien mendapatkan layanan perawatan dan pengobatan.
Ini sejalan dengan Perda Nomor 5 Tahun 2024 tentang Penanggulangan Penyakit Menular dan Tidak Menular, serta Perda Nomor 3 Tahun 2025 tentang RPJMD Kota Gorontalo 2025–2029.
“Kerahasiaan pasien harus menjadi bagian dari standar pelayanan Kesehatan di Kota Gorontalo,” kata Jeffry.
Jadi, buat kalian yang merasa perlu melakukan pemeriksaan, nggak takut. Kerahasiaan identitas dilindungi payung hukum.
Dan kalopun kemudian dinyatakan positif, kalian nggak perlu takut, karena obat untuk pengobatan HIV tersedia. Tinggal dari kalian, mau berobat atau nggak.





