ZEN SERU! Kalo ribuan ASN kompak ngasih dukungan ke kepala daerahnya, apakah itu otomatis diartikan mereka sedang mengintervensi proses hukum?
Eits, entar dulu gengs! Jangan main judge secepat kilat!
Kayak yang keliatan di aksi solidaritas ribuan ASN untuk Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea di Polda Gorontalo, Rabu (14/126) sore.
Aksi ini nggak bisa ujug-ujug di cap sebagai upaya buat ngasih tekanan ke penegak hukum, ya…
Support ASN untuk Wali Kota Adhan harus diliat secara fair. Jangan cuma dilihat dari satu sudut pandang, lalu langsung nge judge mentah-mentah.
Selama masih on the track, sesuai aturan, dan nggak ninggalin tugas utama sebagai pelayan masyarakat, solidaritas ASN kepada Wali Kota Adhan nggak bisa dicap salah dan melanggar aturan.
Jubir Wali Kota Gorontalo, Jeffry Rumampuk, negasin kalo ngasih dukungan ke pemimpin yang diduga dapet perlakuan nggak adil dari penegak hukum itu adalah bagian dari hak.

Menurut dia, dukungan itu nggak bisa auto disama-samain kayak usaha buat mengintervensi proses hukum.
“Jangan mem-framing seolah-olah solidaritas ASN ke Wali Kota itu adalah hal yang salah. Kita semua respect sama proses hukum, tapi respect sama hukum bukan berarti masyarakat atau ASN harus diem aja pas ada dugaan ketidakadilan di penanganan suatu perkara,” tegas Jeffry.
Menurutnya, dukungan ke Wali Kota Adhan ini muncul di tengah isu hukum terkait pembongkaran bangunan yang diduga cagar budaya. Makanya, isu ini harus diliat menyeluruh, bukan setengah-setengah.
“Polemik ini harus ditaro dalam konteks hak buat nyampein pendapat dan prinsip praduga tak bersalah. Dugaan adanya upaya kriminalisasi atau perlakuan diskriminatif juga perlu dijawab pake fakta dan proses hukum yang objektif, bukan ditutup sama penilaian sepihak,” ujarnya.
Jeffry juga ngingetin kalo solidaritas ASN nggak auto jadi pelanggaran UU ASN. Harus dilihat juga bentuk kegiatannya gimana, posisi ASN pas bertindak, plus ada nggak-nya pelanggaran kewajiban, kode etik, netralitas, dan disiplin aparatur.
“Silakan tunjukin aturan mana yang dilanggar apabila ASN menyampaikan solidaritas secara tertib, nggak memihak dalam kontestasi politik, nggak menyalahgunakan jabatan, dan nggak ninggalin kewajiban pelayanan publik. Jangan sampai sebuah sikap langsung dihakimi sebelum fakta dan ketentuan yang berlaku diperiksa secara utuh,” ujarnya.
Intinya, menurut Jeffry, dukungan ke Wali Kota bukan berarti nolak proses hukum atau minta aparat stop jalanin tugasnya. Justru, pemeriksaan harus tetep jalan secara profesional, transparan, dan objektif tanpa tekanan dari pihak manapun.
Buat Jeffry, justru kritik terhadap penanganan perkara juga bagian dari demokrasi juga. Jadi, mempertanyakan objektivitas penegakan hukum nggak seharusnya langsung di-cap sebagai tindakan yang ngerendahin atau ngganggu wibawa aparat.
“Kalo proses hukum harus dihormati, maka asas praduga tak bersalah juga harus dihormati. Jangan cuma minta satu pihak buat bijak, sementara pertanyaan soal objektivitas penanganan perkara malah dianggap sebagai tekanan. Hukum harus berdiri di atas fakta, bukan persepsi atau penilaian sepihak,” tegasnya.
Jeffry juga mastiin kalo seluruh ASN di lingkungan Pemkot Gorontalo tetep punya tanggung jawab utama buat melayani masyarakat.
“Solidaritas nggak boleh jadi alesan buat ngacuhin warga yang butuh layanan administrasi, kesehatan, pendidikan, maupun pelayanan pemerintahan lainnya,” ucap Jeffry.
Dia juga berharap agar persoalan hukum yang lagi jalan nggak dijadiin bahan buat ngadu domba ASN sama pimpinan daerah. Menurut dia, beda pandangan itu wajar, tapi profesionalisme birokrasi dan kepentingan masyarakat harus tetep jadi prioritas.
“Jangan benturin loyalitas sama profesionalisme secara keliru. ASN wajib kerja sesuai aturan, sementara nyampein pendapat secara sah juga punya tempatnya sendiri,” ucap Jeffry.
“Nggak boleh ada pihak yang ditempatkan di atas hukum, tetapi nggak boleh juga muncul penilaian bahwa solidaritas yang dilakukan secara sah dicap sebagai sebuah pelanggaran,” lanjut Jeffry, menutup.





