ZEN SERU! Buat kamu yang mengaku pencinta kopi, jangan sampai melewatkan Gorontalo Coffee Week (GCW) 2026.
Event kopi yang segera digelar di Gorontalo ini bukan sekadar tempat untuk ngopi, berburu minuman favorit, atau nongkrong bersama teman. GCW 2026 disiapkan sebagai ruang bertemunya petani, roastery, barista, coffee shop, street coffee, pelaku UMKM, supplier hingga konsumen.
Mengusung tema “Menyeduh Masa Depan Kopi Gorontalo”, GCW 2026 membawa misi yang lebih besar: mempertemukan sekaligus memperkuat ekosistem kopi Gorontalo yang dalam beberapa tahun terakhir terus berkembang.
Lantas, GCW 2026 itu sebenarnya apa?
Salah satu panitia pelaksana GCW 2026, Sagis, yang juga owner coffee shop Tempat Nala, mengatakan kegiatan ini hadir karena perkembangan bisnis kopi di Gorontalo sedang bergerak cukup cepat.

“Karena ekosistem kopi Gorontalo sedang berkembang dan mengalami peningkatan yang cukup signifikan, kami merasa 2026 adalah momentum yang tepat untuk mulai memperbesar ekosistem ini,” kata Sagis.
Bukan Cuma Ngopi, Ada Banyak Hal yang Bisa Ditemukan
Kalau selama ini event kopi identik dengan booth minuman dan tempat nongkrong, GCW 2026 mencoba menawarkan pengalaman yang lebih luas.
Pengunjung nantinya tidak hanya bisa menikmati kopi, tetapi juga berkesempatan melihat lebih dekat berbagai sisi industri kopi Gorontalo.
Mulai dari coffee shop, kedai kopi, street coffee, roastery, UMKM, supplier, edukasi hingga kompetisi barista akan menjadi bagian dari rangkaian GCW 2026.
Julianur dari Diskopi dan Mejoes Coffee and Slow Bar menegaskan, GCW memang sejak awal tidak dirancang sebagai festival kopi konvensional.
“Gorontalo Coffee Week 2026 atau GCW adalah sebuah platform ekosistem kopi, bukan sekadar festival kopi biasa,” ujarnya.
Konsep GCW 2026 nanti, kata Julianur, bukan hanya bagi penikmat kopi, tetapi juga bagi mereka yang ingin mengetahui bagaimana industri kopi bekerja dari hulu hingga hilir.
Coffee Shop Vs Street Coffee
Salah satu hal menarik yang ingin dibawa GCW 2026 adalah mempertemukan berbagai model bisnis kopi dalam satu ruang.
Pertumbuhan street coffee di Kota Gorontalo belakangan ini memang tak bisa dipandang sebelah mata. Konsepnya yang lebih sederhana dengan kebutuhan biaya operasional yang relatif ekonomis membuat street coffee semakin mudah ditemukan dan diminati masyarakat.
Di sisi lain, menjalankan coffee shop membutuhkan modal dan biaya operasional yang jauh lebih besar. Mulai dari sewa tempat, gaji karyawan, peralatan, hingga berbagai kebutuhan operasional lainnya. Tak heran, sebagian pelaku coffee shop sempat melihat menjamurnya street coffee sebagai tantangan, bahkan berpotensi menjadi ancaman bagi bisnis mereka.
Namun, GCW 2026 justru ingin mengubah cara pandang tersebut.
Menurut Sagis, street coffee dan coffee shop tidak harus ditempatkan dalam posisi berhadap-hadapan sebagai kompetitor. Keduanya merupakan bagian dari ekosistem kopi Gorontalo yang sedang tumbuh dan membutuhkan ruang untuk berkembang bersama.
“Justru karena ekosistem kopi Gorontalo sedang berkembang dan mengalami perubahan yang cukup cepat, kami merasa 2026 adalah momentum yang tepat untuk mulai duduk bersama,” kata Sagis.
Karena itu, GCW 2026 hadir bukan untuk mempertemukan siapa yang lebih unggul, tetapi untuk membuka ruang kolaborasi. Para pelaku coffee shop, kedai kopi hingga street coffee akan dilibatkan sebagai bagian dari ekosistem yang sama.
“Kami tidak melihat street coffee sebagai masalah. Mereka juga bagian dari pertumbuhan ekosistem kopi Gorontalo,” ujarnya.
Karena itu, GCW 2026 ingin mendorong perubahan cara pandang pelaku industri.
“Kami ingin mengubah perspektif dari ‘siapa kompetitor saya?’ menjadi ‘bagaimana kita membuat ekosistem kopi Gorontalo menjadi lebih kuat?’,” kata Sagis.
Jadi, buat kamu yang selama ini melihat coffee shop dan street coffee sebagai dua dunia berbeda, GCW 2026 justru ingin mempertemukannya.
Ada Edukasi dan Kompetisi Barista
Bukan cuma soal mencicipi kopi, GCW 2026 juga membawa agenda peningkatan kapasitas pelaku industri, terutama barista.
Hikem dari Diskopi dan The Wave Roastery mengatakan kompetisi tetap menjadi bagian penting. Namun, kompetisi tersebut diharapkan tidak berhenti pada perebutan gelar juara.
“Kompetisi itu penting. Tetapi ekosistem yang sehat tidak dibangun dengan membuat semua orang merasa harus saling mengalahkan,” ujarnya.
Semangat tersebut diterapkan melalui rangkaian Road to GCW, termasuk kompetisi Pour & Prove.
Ikel dari Diskopi dan Mejoes Coffee & Slow Bar mengatakan kompetisi tersebut mulai menggunakan sistem penilaian yang lebih terstruktur melalui compulsory scoring.
Sistem itu diharapkan membuat peserta tidak hanya mengejar piala, tetapi juga memahami standar penilaian, menerima evaluasi dan meningkatkan kemampuan.
“Kami ingin membangun jalurnya: belajar, berlatih, berkompetisi, mendapatkan evaluasi, kemudian naik level,” kata Ikel.
Bawa Pulang Pengalaman, Bukan Cuma Kopi
Wahyu dari Raya Culture Labs dan Tempat Nala mengatakan konsep GCW 2026 memang dibuat agar pengunjung mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekadar pengalaman datang ke sebuah event.
“GCW bukan hanya tentang orang datang, membeli kopi, menikmati acara, lalu pulang. Kami ingin ada pengetahuan yang dibawa pulang, koneksi baru yang terbentuk, peluang usaha yang terbuka, dan kolaborasi yang terus berjalan setelah acara selesai,” kata Wahyu.
Dengan konsep tersebut, GCW 2026 bisa menjadi tempat bagi penikmat kopi untuk menemukan kedai baru, mengenal pelaku industri, belajar soal kopi, menyaksikan kompetisi sekaligus membuka peluang kolaborasi.
Lebarannya Anak Kopi
Keterlibatan berbagai pihak juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan GCW 2026.
Un Toar dari Diskopi dan Tempat Nala mengatakan keterlibatan mereka tahun ini menjadi lebih besar setelah mendapat kepercayaan dari Bank Indonesia Provinsi Gorontalo untuk menyukseskan GCW 2026.
Namun, ia menegaskan GCW tetap lahir dari keresahan dan inisiatif para pelaku ekosistem kopi.
“Keinginan untuk mengambil peran yang sedikit lebih banyak dari tahun sebelumnya ini, berangkat dari inisiatif dan keresahan pelaku di dalam ekosistem kopi sendiri,” kata Un Toar.
Hamied dari Diskopi dan MAHI menilai keterlibatan pemerintah lebih tepat dilihat sebagai kolaborasi.
Menurutnya, pemerintah dapat berperan membuka akses, mempertemukan pemangku kepentingan serta memberikan dukungan kepada UMKM dan pelaku industri.
Sementara itu, pelaku kopi tetap menjadi penggerak utama ekosistem.
“Karena kalau kita bicara tentang masa depan kopi Gorontalo, ini bukan pekerjaan satu penyelenggara, satu coffee shop, satu komunitas, ataupun pemerintah saja. Ini adalah pekerjaan bersama,” ujar Hamied.
Tak heran jika ia menyebut GCW sebagai “lebarannya anak kopi”.
Jadi, Kenapa Harus Datang ke GCW 2026?
Kalau kamu pencinta kopi, barista, pemilik usaha, pelaku UMKM, komunitas, atau sekadar penasaran dengan perkembangan industri kopi di Gorontalo, GCW 2026 menawarkan alasan untuk datang.
Bukan hanya untuk minum kopi, tetapi juga menemukan pengalaman baru, bertemu pelaku industri, belajar, menyaksikan kompetisi, membuka koneksi dan melihat bagaimana masa depan kopi Gorontalo sedang dibangun.
Sagis mengatakan semangat tersebut sejalan dengan tema besar GCW 2026.
“Bukan hanya keramaian selama tiga hari, tetapi ekosistem yang lebih terhubung, pelaku yang lebih kompeten, standar yang lebih tinggi, dan kolaborasi yang tetap berjalan setelah GCW selesai,” ujarnya.
Jadi, sudah siap menyeduh masa depan kopi Gorontalo bersama di GCW 2026?






