ZEN SERU — BPJS Ketenagakerjaan Gorontalo terus nyari cara biar informasi soal jaminan sosial ketenagakerjaan nggak cuma berhenti di kantor, tapi juga nyampe ke masyarakat luas. Salah satunya lewat diskusi bareng Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Gorontalo yang digelar di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Gorontalo, Sabtu (25/7/2026).
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Gorontalo, Sanco Simanullang, dalam diskusi negasin kalo media punya peran strategis buat nyebarin info soal manfaat program jaminan sosial ketenagakerjaan ke masyarakat.
Dia bilang, dari sekitar 1,2 juta penduduk Gorontalo, ada sekitar 600 ribu pekerja yang jadi target perlindungan BPJS Ketenagakerjaan. Tapi sampai sekarang, jumlah pekerja yang udah terdaftar baru sekitar 300 ribu orang.
“Pegawai kami cuma sekitar 18 orang. Tentu nggak mungkin ngejangkau seluruh pekerja tanpa dukungan berbagai pihak, termasuk media. Karena itu kami berharap bisa bangun kerja sama yang lebih erat dengan JMSI dan seluruh insan pers di Gorontalo,” ujar Sanco.
BPJS Ketenagakerjaan, kata dia, juga buka peluang kerja sama lewat nota kesepahaman maupun program kolaborasi lain buat ningkatin literasi masyarakat soal pentingnya perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Dalam pertemuan itu, Sanco juga ngajak para jurnalis buat ikut jadi peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan. Menurutnya, profesi wartawan punya risiko tinggi saat liputan di lapangan, jadi perlindungan yang memadai itu penting banget.
“Jurnalis juga pekerja yang punya risiko kecelakaan kerja. Saat meliput di jalan, lokasi bencana, konflik, maupun kegiatan lainnya, risiko itu selalu ada. Karena itu penting bagi insan pers dapet perlindungan BPJS Ketenagakerjaan,” katanya.
Sanco juga jelasin, manfaat yang dikasih BPJS Ketenagakerjaan jauh lebih besar dibanding iuran yang dibayar. Sebagai gambaran, tenaga kerja di Gorontalo yang menerima upah sesuai Upah Minimum Provinsi (UMP) Gorontalo 2026 dan terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan bisa dapet perlindungan maksimal lewat program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) kalo mengalami kecelakaan kerja sampai meninggal dunia.
Manfaat yang bisa diterima ahli waris meliputi santunan meninggal akibat kecelakaan kerja sebesar Rp163.446.912, santunan berkala Rp12 juta, biaya pemakaman Rp10 juta, serta beasiswa pendidikan buat dua orang anak hingga Rp174 juta.
Jadi, total potensi manfaat yang bisa diterima keluarga peserta bisa mencapai Rp359.446.912.
“Sering kali pekerja ngerasa nggak butuh perlindungan karena merasa sehat dan aman. Padahal risiko kecelakaan maupun kematian bisa terjadi kapan aja. Saat itu terjadi, BPJS Ketenagakerjaan hadir buat memastikan keluarga yang ditinggalkan tetap punya perlindungan ekonomi,” jelasnya.
Selain JKK, BPJS Ketenagakerjaan juga punya program Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Pensiun (JP), dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) yang ngasih perlindungan menyeluruh buat pekerja formal maupun sektor tertentu.
Dalam kesempatan itu, BPJS Ketenagakerjaan juga dorong insan pers jadi mitra edukasi buat masyarakat, sekaligus membuka peluang pemberian apresiasi kepada media dan jurnalis yang aktif nyosialisasiin manfaat program jaminan sosial ketenagakerjaan.
Lewat kolaborasi bareng JMSI Gorontalo, BPJS Ketenagakerjaan berharap tingkat kepesertaan pekerja di Gorontalo terus naik, biar makin banyak pekerja dan keluarganya yang terlindungi dari berbagai risiko sosial dan ekonomi.






