‎‎2 Jam Sebelum Tampil, Laptop Error! Cowok Ini Tetap Bawa Sanggar Hulondhalangi Sabet 5 Juara Nasional

ZEN SERU! Dibalik suksesnya Sanggar Hulondhalangi yang memborong 5 gelar juara di ajang Kesatria Fest 3.0 2026 di Jakarta, ada sosok yang justru nggak ikut berangkat ke lokasi lomba, tapi bisa bikin harum nama Gorontalo.

Namanya Dikhy Saputra Indradi. Usianya baru 25 tahun. Tapi tangan dinginnya sukses bikin karya musik yang mengantarkan Sanggar Hulondhalangi jadi salah satu penampil paling mencuri perhatian. Bonusnya, Dikhy juga dinobatkan sebagai Penata Musik Terbaik dalam kompetisi tingkat nasional itu.

Yang bikin ceritanya makin gokil, dua jam sebelum tim naik panggung, musik yang bakal dipakai ternyata masih harus direvisi, sementara Dikhy nggak ikut rombongan. Ia standby di Gorontalo.

Bayangin aja. Jakarta dan Gorontalo dipisahkan ribuan kilometer. Sementara waktu terus jalan menuju penampilan. Revisi harus selesai saat itu juga.

“Sempat drama juga karena laptop buat editing sering error. Jadi prosesnya benar-benar saling kirim file bolak-balik Gorontalo-Jakarta,” kata Dikhy, menceritakan pengalamannya.

Untungnya komunikasi tim tetap jalan. Draft musik direvisi secara online, dikirim lagi, dicek lagi, diperbaiki lagi sampai akhirnya semuanya siap tepat sebelum tampil.

Drama yang bikin deg-degan itu justru berakhir manis. Musik racikan Dikhy sukses mengantar Sanggar Hulondhalangi membawa pulang lima penghargaan sekaligus, termasuk gelar bergengsi Penata Musik Terbaik.

BERITA TERKAIT: ‎Bikin Bangga Gorontalo! Sanggar Hulondhalangi Borong Juara Utama di Ksatria Fest 2026‎‎

Padahal ini adalah kompetisi nasional pertamanya sebagai penata musik tari.

Berawal dari Recorder SD, Sekarang Musiknya Juara Nasional

Kalau lihat pencapaiannya sekarang, mungkin banyak yang ngira kalo Dikhy memang lahir sebagai musisi.

Faktanya nggak juga…

Cowok lulusan S1 Sistem Informasi Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo itu baru mulai jatuh cinta sama musik sejak kelas 4 SD. Alat musik pertama yang ia kuasai bahkan bukan gitar atau piano, melainkan recorder yang dulu wajib dimainkan saat pelajaran seni budaya.

Masuk kelas 5 SD ia mulai belajar gitar, keyboard, drum, sampai alat musik tradisional Gorontalo, gambusi, yang diakuinya sebagai salah satu alat musik favoritnya sampai sekarang.

“Karena buat aku, memainkan gambusi bukan cuma soal musik. Ini cara aku buat ngejaga budaya Gorontalo supaya tetap hidup,” pungkasnya.

Musik Tradisional Ketemu EDM? Kenapa Nggak.

Saat dipercaya menggarap musik untuk Hulondhalangi di Kesatria Fest 3.0, Dikhy diberi kebebasan penuh menuangkan ide. Koreografer hanya memberikan tema. Sisanya, Dikhy menerjemahkan semuanya menjadi musik.

Uniknya lagi, ia memilih menggabungkan musik tradisional Gorontalo dengan sentuhan Electronic Dance Music (EDM) yang selama ini jadi genre favoritnya.

Inspirasi terbesarnya datang dari Alffy Rev, khususnya alter ego DJ miliknya, XYRA, yang dikenal dengan warna musik techno yang megah.

Hasilnya? Musik tradisi yang tetap terasa akar budayanya, tapi punya energi modern yang bikin penonton ikut hanyut.

Yang Penting Puas Sama Karya Sendiri

Masuk kompetisi nasional tentu nggak gampang. Apalagi harus bersaing dengan banyak penata musik dari berbagai daerah. Tapi Dikhy punya prinsip sederhana.

“Aku nggak mau sibuk membandingkan diri dengan peserta lain,” katanya.

Menurutnya, karya terbaik adalah karya yang bisa bikin penciptanya puas.

“Bukan berarti karya orang lain nggak bagus. Semua keren. Tapi saya selalu mencoba berpikir kalau karya yang saya buat adalah versi terbaik yang bisa saya berikan.”

Baginya, tepuk tangan ribuan penonton di panggung Teater Taman Ismail Marzuki sudah menjadi kemenangan tersendiri.

Nangis Depan Orang Tua

‎Momen paling emosional datang saat pengumuman juara. Karena nggak ikut ke Jakarta, Dikhy hanya bisa mengikuti pengumuman lewat video call bersama owner Sanggar Hulondhalangi.

Begitu namanya diumumkan sebagai Penata Musik Terbaik, ia langsung lompat kegirangan. Air mata pun nggak bisa ditahan. Orang tuanya yang ada di rumah sempat kaget karena tiba-tiba mendengar anaknya teriak.

Begitu tahu alasannya, sang ibu langsung memeluk Dikhy sambil ikut menangis bahagia. Ucapan selamat juga berdatangan dari teman-teman dan sahabat melalui WhatsApp hingga Instagram.

Ini Justru Baru Awal Perjalanan

Perjalanan Dikhy sebenarnya sudah cukup panjang.

Ia pernah tampil di side event G20 Bali 2022 bersama Gorontalo Inovasi Choir, tampil di Indonesian Fashion Week 2023, hingga menjadi opener Pekan Kreativitas Pemuda Indonesia 2022.

Ia juga pernah menjadi penata musik untuk Tari Kolosal PENAS XVII dan meraih prestasi nasional di FLS3N.

Meski begitu, penghargaan Penata Musik Terbaik Kesatria Fest 3.0 menjadi pencapaian yang paling berkesan sepanjang kariernya.

“Buat saya ini baru titik awal. Lima atau sepuluh tahun lagi, saya ingin tetap ingat kalau semua perjalanan besar ini dimulai dari proses yang penuh lika-liku.”

Dan siapa sangka, salah satu karya terbaiknya justru lahir dari revisi dadakan, koneksi internet, file bolak-balik Gorontalo-Jakarta, serta laptop yang eror berkali-kali.

Folow & Simak Podcast Kami di Spotify

Share this news

Related Posts

‎Tersisa 4 Tahun, Apakah Ambisi Besar Pemda Kota Gorontalo Bersama Bappenas Bakal Tercapai?

OPINI | ZEN SERU, Coba bayangin. Tahun 2030 tinggal hitungan beberapa tahun lagi. Sementara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, ada satu target besar yang lagi dikejar bersama: menciptakan pembangunan yang…

Share this news

‎Volume Sampah Kota Gorontalo Meningkat, Wawali Indra Malah Bilang Begini!‎‎

ZEN SERU, Kalo ngomongin SDGs atau Sustainable Development Goals, banyak orang langsung mikir, “Wah, ini pasti bahasan pejabat dan akademisi yang ribet.” Tapi, Wakil Wali Kota Gorontalo Indra Gobel punya…

Share this news