ZEN SERU! Kalau wadahnya sudah modern, apakah tradisinya ikut berubah? Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kota Gorontalo membuktikan kalo jawabannya tidak harus begitu.
Dalam perayaan perdana Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo, Senin (24/8/2026) malam, Dinas Kominfo dan Persandian turut mengambil bagian dengan menyerahkan lima keranjang berisi makanan dan kue tradisional kepada panitia pelaksana.
Partisipasi tersebut menjadi bagian dari tradisi Dikili atau Walima, yang memang identik dengan perayaan Maulid di Gorontalo.
Dalam tradisi ini, masyarakat berkumpul di masjid untuk berzikir, bershalawat, mengagungkan nama Allah, serta mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW menggunakan bahasa Arab dan bahasa daerah Gorontalo. Pelaksanaannya bahkan dapat berlangsung belasan jam, mulai selepas salat Isya hingga pagi hari.

Yang menarik, dalam event tahunan ini, Kominfo memilih menggunakan keranjang modern sebagai wadah sajian. Bukan Toyopo atau Tolangga yang identik dengan event tahunan ini.
Pilihan ini menyesuaikan perkembangan zaman, mengingat penggunaan wadah tradisional seperti Toyopo atau Tolangga mulai berkurang karena pembuatannya membutuhkan pemahaman terhadap makna simbolik yang terkandung di setiap bagian strukturnya.

(foto: el-Ghava) Bentuk tradisional Toyopo atau Tolangga yang identik dipakai untuk meletakan beragam makanan dan kue tradisional sebelum dibagikan kepada masyarakat.
Namun, perubahan wadah tersebut tidak membuat Kominfo meninggalkan identitas tradisinya. Lima keranjang yang diserahkan tetap diisi makanan dan kue tradisional.
Artinya, ada bagian yang beradaptasi dengan kebutuhan masa kini, tetapi unsur utama tradisi tetap dipertahankan.
Dalam praktiknya, setelah rangkaian doa dan zikir selesai, sajian tersebut kemudian dibagikan kepada jamaah, pelantun zikir, serta masyarakat sekitar masjid pada keesokan paginya.
Pembagian makanan ini bukan sekadar soal konsumsi. Di dalamnya terdapat pesan tentang keberkahan, kebersamaan, dan semangat berbagi yang menjadi bagian penting dari perayaan Maulid di Gorontalo.
Perayaan di Masjid Agung Baiturrahim sendiri menjadi pembuka rangkaian Maulid Nabi 1448 Hijriah di Kota Gorontalo. Dengan kata lain, kegiatan serupa akan dilaksanakan di masjid-masjid yang berada di setiap kelurahan sampai beberapa hari kedepan.
Dengan ikut ambil bagian, Dinas Kominfo dan Persandian Kota Gorontalo menunjukkan bahwa tradisi bisa beradaptasi dengan zaman tanpa harus kehilangan rasa dan maknanya.






