ZEN SERU! Pulang dari Tanah Suci ternyata bukan cuma bawa oleh-oleh. Lebih dari itu, para jamaah haji Kota Gorontalo pulang dengan “oleh-oleh” paling mahal, yaitu hati yang lebih sabar dan ikhlas.
Pesan ini jadi benang merah dalam acara doa penyambutan kembali jamaah haji Kota Gorontalo tahun 1447 Hijriah/2026 yang digelar di Aula Rudis Wali Kota Gorontalo, Bhandayo Lo Yiladia (BLY), Jumat (26/6/2026).
Dalam acara tersebut, pendamping haji Kota Gorontalo, KH. Mungkizul Umam Kau, dipercaya menyampaikan ceramah hikmah haji. Karena ikut mendampingi jamaah selama di Tanah Suci, ia membagikan pengalaman-pengalaman yang menurutnya sulit dilupakan.
Menurut Mungkizul, ibadah haji bukan cuma soal menyempurnakan rukun Islam kelima, tapi juga menjadi “sekolah kehidupan” yang ngajarin jemaah buat lebih sabar dan ikhlas.
Ia lalu membagikan kisah salah satu jamaah yang sempat curhat kepadanya.
”Ada jamaah yang bilang ke saya, ‘Pak Ustaz, orang yang tidur di sebelah saya nggak pernah diam. Tiba-tiba tangannya sudah di dada saya, kadang di wajah saya. Bahkan kakinya pernah sampai di kepala saya. Tapi anehnya, saya nggak bisa marah. Rasanya kesabaran saya waktu di Tanah Suci seperti lebih luas,” kata Mungkizul berbagi pengalamannya.
Cerita sederhana itu, kata Mungkizul, nunjukkin kalo Allah sedang mendidik hati setiap orang yang berhaji. Dalam kondisi penuh sesak, antre panjang, cuaca panas, sampai harus berbagi ruang dengan jutaan orang dari berbagai negara, jamaah justru belajar mengendalikan emosi.
Ia menjelaskan, sabar di Tanah Suci bukan cuma soal menahan lelah, tapi juga belajar menerima keadaan tanpa terus mengeluh. Nilai itulah yang seharusnya tetap dibawa pulang ke kampung halaman.Selain soal sabar, Mungkizul juga memaknai ibadah haji sebagai ibadah paling ikhlas.
Selain sabar, Menurut Mungkizul, ibadah haji juga mengajarkan tentang keikhlasan. Ia mengibaratkan seperti kain ihram.
Saat berada di Tanah Suci, kain ihram, kata dia, menjadi benda yang paling berharga karena menjadi syarat menjalankan ibadah. Namun setelah pulang ke tanah air, kain putih itu justru ditinggalkan karena kalah penting dengan oleh-oleh.
”Bayangkan, kain ihram yang waktu pelaksanaan haji menjadi barang paling penting, ketika balik ke Tanah Air justru dikalahkan oleh oleh-oleh yang dibawa pulang,” ujarnya.
Lewat analogi itu, ia ingin mengingatkan bahwa kehidupan dunia memang penuh dengan hal-hal yang sifatnya sementara. Apa yang hari ini terasa sangat penting, belum tentu akan terus bernilai di kemudian hari.
Karena itu, menurutnya, jangan sampai semangat ibadah, kesabaran, dan keikhlasan yang ditempa selama di Tanah Suci ikut “tertinggal” setelah jamaah kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Ia berharap seluruh jemaah haji Kota Gorontalo bisa menjaga predikat haji mabrur dengan terus menunjukkan perubahan sikap dalam kehidupan, mulai dari lebih sabar menghadapi persoalan, lebih ikhlas menerima ketentuan Allah, hingga menjadi teladan di tengah masyarakat.






