ZEN SERU! Siapa bilang urusan pertanian dan perikanan cuma buat generasi lama? Justru dari sektor inilah masa depan Indonesia sedang dipertaruhkan.
Pesan itu disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sudaryono, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum DPN HKTI, saat memberikan materi dalam kegiatan Kopdar Tani dan Nelayan, perhelatan PENAS KTNA XVII Gorontalo, Selasa (23/06/26).
Dengan tema “Kompak Bergerak Lanjutkan Swasembada Pangan, Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045” materi itu disampaikan dihadapan ribuan peserta, di Universitas Gorontalo Convention Center (UGCC).
Dalam materinya, Sudaryono menegaskan bahwa target menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045 bukanlah mimpi yang mustahil. Namun, menurutnya, cita-cita besar tersebut hanya bisa dicapai jika seluruh elemen bangsa bergerak bersama dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Kita punya lahan, kita punya laut yang luas, kita punya sumber daya manusia. Tinggal bagaimana kita kompak bergerak dan meningkatkan produktivitas. Kalau semua bergerak dalam satu tujuan, Indonesia bukan hanya swasembada, tetapi bisa menjadi pemasok pangan dunia,” tegas Sudaryono.
Menurutnya, ketahanan pangan kini menjadi isu strategis yang menentukan kekuatan sebuah negara. Di tengah tantangan perubahan iklim, krisis pangan global, hingga ketidakpastian ekonomi dunia, Indonesia harus mampu berdiri di atas kekuatan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan pangan nasional.
Dalam materinya, Sudaryono juga menekankan pentingnya regenerasi petani dan nelayan. Ia mengajak generasi muda untuk tidak lagi memandang sektor pertanian sebagai profesi yang tertinggal zaman.
”Anak muda harus masuk ke sektor pertanian dengan teknologi, inovasi, dan kreativitas. Pertanian hari ini bukan lagi soal cangkul semata, tetapi soal bisnis, teknologi, dan masa depan bangsa,” ujarnya.
Nggak hanya berbicara soal visi besar, Wamentan juga memaparkan berbagai upaya pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian nasional, mulai dari peningkatan produksi, modernisasi alat dan mesin pertanian, penguatan kelembagaan petani, hingga dukungan akses permodalan dan pasar.
”Kalau produksi meningkat, petani sejahtera. Kalau petani sejahtera, pangan aman. Kalau pangan aman, negara kuat. Itu rantai yang harus kita jaga bersama,” katanya.
Menjelang akhir kegiatan, suasana UGCC semakin meriah saat Wamentan membagikan berbagai hadiah undian kepada peserta yang hadir, mulai dari setrika, rice cooker, telepon genggam (HP), hingga tablet.
Nggak hanya itu, perhatian khusus juga diberikan kepada kontingen PENAS asal Papua. Wamentan menyerahkan bantuan berupa bibit dan alat mesin pertanian (alsintan) sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan sektor pertanian di wilayah Papua.
“Nanti menghadap ke asisten saya. Sampaikan apa saja yang dibutuhkan untuk mendukung pertanian bapak ibu, nanti kita adakan,” katanya kepada peserta Papua.






