ZEN SERU! Di ajang Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII, Stand Pameran teknologi budidaya ikan modern milik Kementrian Pertanian dan Perikanan sukses mencuri perhatian peserta.
Salah satu sesi yang paling ramai diserbu adalah coaching clinic teknologi Bioflok dan pembibitan ikan Nila unggul yang dipandu langsung oleh Gani Asri Muharam, instruktur pemberdayaan perikanan asal Bitung, Sulawesi Utara.
Dalam pelatihan tersebut, Gani membagikan berbagai teknik praktis mulai dari pembangunan kolam Bioflok hingga cara menghasilkan bibit Nila berkualitas secara mandiri.
”Teknologi Bioflok ini bukan hanya soal meningkatkan produksi ikan, tetapi juga bagaimana peternak bisa lebih efisien, hemat biaya, dan tetap ramah terhadap lingkungan. Harapannya peserta bisa langsung menerapkan teknologi ini saat kembali ke daerah masing-masing,” ujar Gani Asri Muharam saat memberikan materi kepada peserta PENAS KTNA XVII.
Kenapa Bioflok Jadi Primadona?
Di tengah tantangan keterbatasan lahan dan tingginya biaya produksi, Bioflok hadir sebagai solusi yang dianggap paling relevan untuk budidaya ikan masa kini.
Teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah limbah budidaya menjadi gumpalan organik atau floc yang dapat dimanfaatkan kembali oleh ikan sebagai sumber nutrisi alami.
Hasilnya? Lebih hemat, lebih bersih, dan lebih produktif.
Menurut Gani, ada beberapa keunggulan utama yang membuat sistem Bioflok semakin diminati para pembudidaya ikan.
”Pertama, hemat lahan karena mampu menghasilkan produktivitas tinggi meski dengan padat tebar ikan yang relatif rapat,” jelas Gani.
Kedua, lanjut Gani, adalah efisien penggunaan air. Menurut keterangannya, Sistem mikroba yang bekerja di dalam kolam mampu mengurai amonia secara alami sehingga kebutuhan pergantian air menjadi jauh lebih sedikit.
“Ketiga, menghemat biaya pakan. Gumpalan bakteri atau floc yang terbentuk dapat menjadi sumber protein tambahan bagi ikan Nila,” sambungnya.
Selain itu, kualitas air yang lebih stabil juga membuat pertumbuhan ikan menjadi lebih cepat, sehat, dan seragam. Bahkan, kata Gani, sistem ini dikenal minim bau karena limbah organik langsung terurai oleh mikroorganisme sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar.
”Kalau dikelola dengan benar, Bioflok bisa meningkatkan efisiensi usaha budidaya secara signifikan. Ini menjadi peluang besar bagi peternak untuk mendapatkan keuntungan yang lebih optimal,” jelasnya.
Menariknya lagi, coaching clinic ini tidak hanya membahas soal kolam Bioflok. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai teknik penyediaan bibit ikan Nila unggul secara mandiri.
Langkah ini dinilai penting karena selama ini banyak peternak masih bergantung pada pasokan bibit dari luar daerah yang harganya relatif tinggi dan ketersediaannya terbatas.
Dengan menguasai teknik pembibitan sendiri, jelas Gani, peternak dapat memangkas biaya produksi sekaligus menjaga kualitas benih yang digunakan dalam usaha budidaya mereka.
Kombinasi antara teknologi Bioflok dan kemampuan menghasilkan bibit unggul secara mandiri diyakini mampu meningkatkan keuntungan usaha sekaligus memperkuat kemandirian sektor perikanan budidaya nasional.
Melalui momentum PENAS KTNA XVII di Gorontalo, transformasi teknologi perikanan modern kini tak lagi sekadar wacana. Ribuan peserta membawa pulang ilmu dan pengalaman baru yang siap diterapkan di daerah masing-masing.






