ZEN SERU! Teknologi pertanian canggih di ajang Pekan Nasional (PENAS) XVII Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) sukses bikin banyak petani Gorontalo terpukau. Salah satunya drone penyebar benih, pupuk dan pestisida yang kecanggihannya diakui petani sangat memukau. Sayangnya, buat sebagian besar petani, alat itu masih sebatas buat dipandang.
Salah satunya dirasakan Ismail Gani, petani asal Bone Bolango. Usai lihat demo drone pertanian di lokasi pameran, ia ngaku pengen banget bisa pakai teknologi secanggih itu. Masalahnya cuma satu: harga!
”Alat-alatnya bagus. Kami senang kalo bisa pakai alat canggih kayak begini. Tapi harganya, mungkin harus nabung 100 tahun dulu baru bisa kebeli,” ujar Ismail.
Ucapan itu bukan tanpa alasan. Drone pertanian yang dipamerkan dibanderol hingga ratusan juta rupiah.
Nggak cuma drone. Mesin pengolah tanah jenis rotavator ditawarkan sekitar Rp325 juta, sementara Combine Harvester buat panen jagung tembus sekitar Rp525 juta. Nominal segitu jelas masih jauh dari jangkauan mayoritas petani di Gorontalo.
Menanggapi hal itu, Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, bilang petani sebenarnya nggak harus beli sendiri alsintan mahal tersebut. Di Gorontalo sudah ada Brigade Alsintan Provinsi Gorontalo yang nyediain berbagai alat pertanian dengan sistem sewa berbiaya murah.
Lewat brigade itu, petani bisa nyewa traktor roda dua maupun roda empat, mesin panen padi dan jagung, mesin pemipil jagung, pompa air pertanian, alat pencacah rumput, kultivator, sampai power sprayer.
Meski begitu, Gusnar mengakui satu teknologi yang paling bikin heboh di pameran kemarin memang belum tersedia, yakni drone pertanian.
“Nanti kita lakukan percontohan dulu. Untuk penyediaan drone seperti yang dipamerkan itu, kita akan coba lewat pihak swasta karena memang harganya mahal,” kata Gusnar.
Artinya, meski drone pertanian belum bisa langsung dipakai petani Gorontalo lewat Brigade Alsintan, pemerintah membuka peluang menghadirkan teknologi tersebut secara bertahap lewat kerja sama dengan sektor swasta.






