ZEN SERU! Di ajang Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII yang digelar di Gorontalo, PT BISI Internasional Tbk memperkenalkan konsep pertanian modern sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi bisa membantu petani bekerja lebih cepat, efisien, dan menghasilkan panen yang lebih maksimal.
Head of Agricultural Machine and Equipment PT BISI Internasional Tbk., Eko Jumantoro, mengungkapkan bahwa pihaknya dalam even ini memperkenalkan berbagai alat dan mesin pertanian (alsintan) yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas petani di ajang Pameran Teknologi PENAS KTNA XVII Gorontalo.
“Produk alat dan mesin pertanian kami mencakup mesin traktor pengolah tanah, rotavator, hingga mesin pemanen atau harvester untuk komoditas padi dan jagung,” ujar Eko saat ditemui di stan pameran.
Kehadiran PT BISI di Penas KTNA XVII bukan tanpa alasan. Event nasional yang mempertemukan petani, nelayan, pelaku usaha, hingga pemerintah ini dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat kemitraan sekaligus memperkenalkan teknologi pertanian yang lebih modern kepada para peserta PENAS, khususnyakepada masyarakat Gorontalo.
Tantangan Pertanian di Gorontalo
Diakui Eko, transformasi pertanian di Gorontalo sebenarnya sudah mulai terlihat. Penggunaan mesin pemanen padi di sejumlah wilayah dataran rendah menjadi bukti bahwa petani mulai beradaptasi dengan teknologi.
Namun, kata Eko, Gorontalo punya tantangan yang tidak dimiliki semua daerah. Mayoritas lahan pertanian jagung di Gorontalo, berada di kawasan perbukitan dan terasering. Kondisi ini, diakuinya, membuat penggunaan mesin pemanen berukuran besar belum bisa berjalan maksimal.
“Mesin pemanen jagung saat ini rata-rata berbobot sekitar empat ton sehingga hanya optimal digunakan di lahan datar. Untuk lahan terasering atau lahan miring masih menjadi tantangan,” jelasnya.
”Karena itu kehadiran kami juga disini sekaligus ingin melakukan riset lebih lanjut agar kedepan bisa menghadirkan alat yang lebih sederhana dan berukuran lebih kecil,” sambungnya.
Artinya, inovasi di sektor pertanian tidak hanya soal menciptakan teknologi canggih, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan yang berbeda-beda seperti di Gorontalo.
Bukan Sekadar Mesin, BISI Pamerkan Pertanian TerpaduYang menarik perhatian pengunjung Penas KTNA XVII bukan hanya deretan alat berat pertanian. BISI juga menghadirkan konsep integrated farming atau pertanian terpadu yang langsung bisa dilihat hasilnya.
Eko mengaku, tiga bulan sebelum acara berlangsung, pihaknya telah menanam berbagai varietas sayuran dan buah-buahan di area pameran. Hasilnya, saat pembukaan Penas KTNA pada 20 Juni lalu, sejumlah tanaman seperti kacang panjang dan gambas sudah memasuki masa panen.
Ini menjadi bukti nyata bahwa lahan Gorontalo memiliki potensi besar untuk mendukung produktivitas pertanian dengan menggunakan benih unggulan BISI.
Beberapa varietas yang ditampilkan PT BISI Internasional Tbk dalam pameran teknologi PENAS KTNA XVII antara lain: Maskot dan BISI 234. Dua benih unggulan ini, kata Eko, menjadi andalan perusahaan dalam mendukung produktivitas petani di Indonesia.
Bagi para petani yang datang berkunjung, demonstrasi ini menjadi semacam laboratorium terbuka yang menunjukkan bagaimana benih berkualitas dapat menghasilkan tanaman yang sehat dan siap panen dalam waktu yang optimal.
Selain itu, dalam pameran tersebut, PT BISI juga memperkenalkan dua produk alsintan unggulan yang cukup menyita perhatian pengunjung.
Rotavator tipe 100 untuk pengolahan tanah ditawarkan dengan harga sekitar Rp325 juta, sementara mesin pemanen jagung Combine Harvester tipe 102 dibanderol sekitar Rp525 juta.
Saat ini, pemasaran produk-produk tersebut masih berfokus pada sektor swasta dan penjualan langsung kepada petani. BISI sendiri belum masuk ke dalam sistem pengadaan pemerintah karena produk-produknya masih menjalani proses sertifikasi resmi.
Pesan untuk Pemerintah: Bantuan Harus Berkualitas
Di tengah semangat modernisasi pertanian, Eko juga menyampaikan harapan kepada pemerintah daerah, khususnya Gorontalo sebagai tuan rumah PENAS KTNA XVII agar lebih selektif dalam pengadaan bantuan alat pertanian untuk masyarakat.
Menurutnya, kualitas harus menjadi prioritas utama agar bantuan yang diberikan benar-benar mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani dalam jangka panjang.
“Harapan kami pemerintah, khususnya kepada bapak Gubernur Gusnar Ismail agar dapat memprioritaskan pengadaan barang yang terbukti berkualitas tinggi,” Pungkasnya.
“Jadi meskipun petani menerima alat tersebut secara gratis sebagai bantuan, mereka tetap mendapatkan produk yang bagus, tahan lama, dan mampu meningkatkan taraf ekonomi mereka secara berkelanjutan,” lanjutnya.
Lewat kehadirannya di Penas KTNA XVII Gorontalo, PT BISI menunjukkan bahwa pertanian masa depan bukan lagi soal tenaga semata. Teknologi, riset, dan inovasi kini menjadi senjata utama untuk menciptakan sektor pertanian yang lebih produktif, efisien, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Singkatnya, Zen Seru, pertanian hari ini sudah makin futuristik. Dan Gorontalo sedang menjadi salah satu panggung penting untuk melihat bagaimana transformasi itu mulai terjadi.






